Kamis, 29 Mei 2014

Tujuan Umum Pandangan Dunia tekhnologi Komunikasi dalam Kehidupan Budaya Indonesia

Randy Yusuf
15111861

Pandangan Dunia Teknologi Komunikasi Di dalam Kehidupan Budaya



Kemajuan Teknologi pada masa ini sudah merambah berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam bidang komunikasi. Komunikasi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan karena manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan komunikasi antar sesamanya.
Dengan adanya teknologi komunikasi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi semakin mudah bahkan dengan adanya teknologi komunikasi seseorang bisa bertemu kembali dengan teman lama, sanak saudara, atau orang tua yang sudah terpisah. Dengan teknologi komunikasi ini pun manusia juga dapat mendapatkan banyak informasi secara cepat dan aktual. Masalah jarak dalam komunikasi juga sudah teratasi oleh teknologi komunikasi ini, saat ini seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang-orang lain di seluruh penjuru dunia.

Tinjauan umum dan pandangan dunia tentang teknologi dan komunikasi sangatlah cepat merambat keseluruh penjuru dunia dan berakibat sedikit menghabiskan ciri dan budaya tersebut karena hilang oleh teknologi canggih di Indonesia ini. Dan seiring berkembangnya jaman dan budaya Indonesia begitupun luar yang semakin serba berbasis teknologi, karena banyaknya pendatang dari luar negeri, dan banyaknya yang keluar masuk Negara dengan mudah, dengan membawa ilmu yang mereka miliki sehingga berkembang di Negara orang lain.
Berikut adalah dampak positif dan negatif dari perkembangan teknologi dan komunikasi :
Dampak Positifnya :

Perubahan Tata Nilai dan Sikap menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju. adanya suatu perubahan menuju masyarakat yang lebih maju, lebih modern, lebih beradab. berkembangnya pola pikir manusia, khususnya indonesia, menjadi lebih terbuka dan tidak fanatik sempit

Tingkat Kehidupan yang lebih Baik Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dampak Negatifnya :
  
Sikap Individualistik. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

 Gaya Hidup Kebarat-baratan. Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.
       
 Budaya sangatlah penting, karena budaya termasuk ciri khas bangsa, tapi budaya tersebut akan hilang jika turunan anak bangsa meninggalkan budaya tersebut. Apalagi seperti sekarang, sudah jamannya era globalisasi yang semakin berkembangnya alat teknologi dan komunikasi yang canggih, sehingga anak bangsa cenderung lebih mendalami dan belajar tentang teknologi dan komunikasi “menghindari gaptek”. Dan sedikit lupa akan budaya nya masing – masing, terkecuali orang tua jaman dahulu yang masih ingat dengan budaya nya.

Kesimpulan :

Dari dampak positif dan negative yang muncul dari perkembangan teknologi komunikasi tersebut hendaknya manusia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya dapat memilah-milah teknologi komunikasi. Tidak semua teknologi komunikasi tersebut baik untuk digunakan. Memang di setiap kisi-kisi kehidupan terdapat dua hal yang saling berseberangan. Ibarat dua sisi mata uang, akibat dari suatu perkembangan hidup dapat menyebabkan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan rohani – di samping kecerdasan jasmani – sehingga kemajuan yang dicapai oleh umat manusia dapat diseleraskan dan diarahkan kepada kepentingan bersama dan lebih diutamakan untuk hasil yang positif.

      Contohdari pada itu anak anak jaman sekarang yang serba teknologi,  itu mereka mempunyai ponsel seluler, kendaraan pribadi.

 Akan tetapi hal yang lebih baik adalah mempelajari  teknologi dan komunikasi digabung dengan budaya yang kita miliki, supaya perkembangan teknologi komunikasi ini bisa berbudaya, dan menjadi ciri khas bangsa.

Selasa, 15 April 2014

Pengertian Bibliografi

 

Bibliografi

Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion: yang berarti buku dan Graphein: yang berarti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku.Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliofrafi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

Unsur-Unsur Bibliografi dan Contoh Penulisannya
a. Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
b. Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
c. Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun
terbit, cetakan ke berapa, nomor jilid buku dan tebal (jumlah halaman)  
buku tersebut.
d. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, atau surat kabar, tanggal dan    tahun.

Penyusunan Bibliografi
a. Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
b. Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad.
c. Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan refrensi, untuk refrensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
d. Jarak antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
e. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat ketikan.

Jenis-Jenis Bibliografi
Jenis bibliografi yang dihasilkan dalam pembuatan publikasi sekunder akan tergantung pada jenis pustaka yang akan didaftar. Misalnya akan dibuat daftar yang berasal dari deskripsi katalog buku yang dimiliki perpustakaan, maka daftar tersebut dapat dinamakan daftar katalog. Sementara jika daftar yang disusun berdasarkan judul artikel suatu majalah, maka daftar tersebut dapat disebut daftar isi.
Dari segi cara penyajian dan uraian deskripsinya, bibliografi dibagi menjadi:
  • Bibliogrfi deskriptif:
Yaitu bibliografi yang dilengakapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium), kolasi serta kata kunci dan abstrak 
yang tertulis.
  • Bibliografi evaluatif: 
Yaitu bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.

Cakupan Bibliografi
Dari segi cakupanya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
  • Bibliografi retrospektif :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada jaman yang lampau. 
Misalnya “Bibliografi sejarah perang Dipenogoro”
  • Bibliografi terkini/current :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini.
Contohnya Ulrich’s International Periodicals Directory.
  • Bibliografi selektif
yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu.
Misalnya “Buku bacaan terpilih untuk anak usia pra sekolah”.
  • Bibliografi subjek :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Misalnya “Bibliografi khusus ternak kelinci”.
  • Biliografi nasional :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contohnya “Bibliografi Nasional Indonesia”.
Penentuan cakupan/topik suatu bibliografi ditentukan berdasarkan berbagai
pertimbangan antara lain :
• Permintaan pengguna
• Topik yang sedang berkembang atau yang banyak diperlukan saat itu
• Dokumentasi koleksi yang dimiliki
• Mandat instansi

Bagian-bagian Bibliografi
Suatu deskripsi bibliografi biasanya terdiri dari :
∼ Judul : berisi judul artikel atau judul buku yang akan dideskripsikan
∼ Kepengarangan : berisi nama pengarang perorangan atau pengarang badan korporasi
∼ Sumber : berisi judul jurnal, judul prosiding, atau judul buku dimana informasi tersebut berada.
∼ Data terbitan (impresium): berisi data tentang kota terbit, nama terbit, dan tahun terbit
∼ Keterangan fisik buku (kolasi), yang berisi halaman lokasi artikel ditemukan.
∼ Keterangan informasi, seperti kata kunci dan abstrak
∼ Keterangan tambahan , seperti lokasi rak penyimpanan, kode call number, perpustakaan pemilik bahan pustaka, dan sebagainya

Manfaat Bibliografi
Pencatatan informasi mengenai koleksi perpustakaan dalam bentuk bibliografi dilakukan dengan berbagai alasan antara lain:
∼ Jumlah koleksi perpustakaan yang semakin meningkat bentuk dan bidang kajiannya
∼ Kebutuhan informasi para pengguna yang semakin beragam dan meningkat jumlahnya
∼ Upaya untuk meningkatkan kualitas layanan penelusuran informasi yang cepat dan tepat

Oleh karena itu penyusunan suatu daftar bibliografi mempunyai fungsi utama untuk membantu pemakai mencari dan menelusuri informasi tertentu. Fungsi lain dari bibliografi adalah sebagai bagian dari jasa pelayanan perpustakaan kepada pemakai. Dengan menerbitkan suatu bibliografi, pustakawan dapat menawarkan koleksinya kepada pemakai tanpa harus mengeluarkan seluruh koleksi yang dimilikinya, serta dapat menjangkau pengguna yang tinggal jauh dari perpustakaan.
Dengan demikian maka, bibliografi dapat digunakan sebagai:
∼ Bahan rujukan terhadap koleksi perpustakaan
∼ Daftar koleksi yang dimiliki perpustakaan
∼ Daftar informasi bahan pustaka mengenai suatu bidang kajian tertentu, dan sebagainya.
Contoh Bibliografi :
1. Buku sebagai sumber acuan
urutan penyebutannya adalah
-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul buku
-Tempat terbit
-Nama penerbit
Setiabudi, A.N. 1985. Cakrawala Nusantara. Jakarta : Gramedia. Depdikbud 1989. Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan, Jakarta : Balai Pustaka.
2. Majalah sebagai sumber acuan
-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul artikel
-Nama majalah
-No majalah
-Bulan terbit
-Tahun terbit
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Insert Media, 12 (Desember IV). Jakarta
3. Surat Kabar sebagai acuan
-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul artikel
-Nama surat kabar
-Tanggal terbit
-Tempat terbit
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Poskota, 2 November 1988 . Jakarta.
4. Antologi Sebagai acuan
-Nama Pengarang
-Tahun terbit karangan
-Judul karangan
-Nama Editor
-Judul antologi
-Tempat terbit
-Nama penerbit
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Kasus Retorika Indonesia. dalam Kaswati Purwo (ed), perjuangan pejuang. Jakarta : Univ Gunadarma.
5. Internet sebagai sumber
Setiabudi, A.N. 1985. “Kereta maglev masa depan” Wikipedia (online), jilid 5,  No.4, (http://www.atmasetya.com, di akses 15 November 2001)
Unsur-unsur Bibliografi
1. Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
2. Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
3. Dara Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan keberapa, nomor jilid buku dan tebal (jumlah halamam) buku tersebut.
4. Untuk sebuah artikel diperlukan juga judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, surat kabar, tanggal dan tahun.


sumber :
By : http://guspalena.blogspot.com/

Selasa, 18 Maret 2014

Perbedaan Catatan Kaki dan Kutipan

Perbedaan Catatan Kaki dan Kutipan

Pengertian Catatan Kaki
I. Catatan kaki
Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan/ bibliografi.

II. Cara Penulisan
  1. Catatan kaki harus dipisahkan oleh sebuah garis yang panjangnya empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
  2. Catatan kaki diketik berspasi satu.
  3. Diberi nomor.
  4. Nomor catatan kaki diketik dengan jarak enam karakter dari margin kiri.
  5. Jika catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks biasa (tepat pada margin kiri).
  6. Jika catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
  7. Jarak baris terakhir catatan kaki tetap 3 cm dari pinggir kertas bagian bawah.
  8. Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih baik potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
  9. Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan catatan kaki.
  10. Jika ada keterangan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
  11. Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan loc.cit.
  12. Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pustaka, tetapi nama pengarang tidak dibalik.
Contoh cara penulisan catatan kaki(footnote)
  • 1 Sidi Gazalba, Maut: Batas Kebudayaan dan Agama (Jakarta: Penerbit Tintamas Indonesia, 1972), 100
  • 2. Ibid., 150
  • 3 Soerjono Soekanto, “Tanggung Jawab Perdata dan Pembantu Dokter,” Kompas, 12 November 1981.
  • 4 Sidi Gazalba, Op.Cit., 200
  • 5 Loc. Cit.
  • Catatan kaki pertama, buku bersangkutan baru pertama kali dikutip, dan kutipan itu diambil di halaman 100.
  • ibid. = ibidem — buku dan pengarang yang sama, artinya halaman 150 dan karya yang sama pada nomor satu. lni dilakukan bila buku pada catatan kaki pertama perlu dikutip lagi di halaman 150- nya (catatan kaki kedua).
  • Jika sesudah itu karangan lain perlu dikutip, maka perlu dibuat catatan kaki selengkapnya seperti catatan kaki pertama.
  • Jika kemudian buku dalam catatan kaki pertama perlu dikutip lagi, maka catatan kaki perlu dibuat seperti catatan kaki keempat.
  • Op.Cit., hlm.200. artinya Opus Citatum, yakni halaman 200 dari sebuah buku/karya yang telah dikutip sebelumnya (dalam hal ini bukunya Sidi Gazaiba).
  • Bila kutipan yang menyusul kemudian diambil dari karya dan halaman yang sama seperti pada kutipan terakhir (catatan kaki yang keempat), maka catatan kakinya cukup disingkat dengan Loc.Cit. (Loco Citato), artinya di kutip di tempat yang sama.
III. Tujuan Catatan Kaki (footnote)
  • Catatan kaki dicantumkan untuk memenuhi kode etik yang berlaku
  • Dapat juga sebagai penghargaan terhadap orang lain yang mungkin berjasda dalam penulisan tersebut
  • Dipergunakan untuk menunjuk kepada sumber dan pernyataan yang dipergunakan dalam teks
IV. Macam-Macam Catatan Kaki (footnote)
Macam-macam kutipan yang  disertai dengan catatan kaki yang didalamnya ada kutipan langsung dan kutipan tidak langsung, serta kutipan tanpa catatan kaki
  •  A. KUTIPAN
    1) Pengertian Kutipan
    Kutipan adalah suatu kata yang mungkin semua orang belum tahu apa maksudnya. Kutipan juga merupakan suatu gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya.
    2) Prinsip-prinsip dalam mengutip
    Dalam membuat tulisan kita pasti sering mengambil atau mengutip dari tulisan orang lain, maka dari itu perlu kita tahu bagaimana prinsip-prinsip yang benar dalam mengutip dari tulisan orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut:
    a. apabila dalam mengutip sebuah karya atau tulisan yang ada salah ejaan dari sumber kutipan kita, maka sebaiknya kita biarkan saja apa adanya seperti sumber yang kita ambil tersebut. Kita sebagai pengutip tidak diperbolehkan membenarkan kata ataupun kalimat yang salah dari sumber kutipan kita.
    b.dalam kutipan kita diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan syarat bahwa
    penghilangan bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna atau arti yang terkandung dalam sumber kutipan kita. Caranya :
    # Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
    Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi.
    # Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
    Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi sepanjang garis (dari margin kiri sampai margin kanan).

  • Kutipan langsung
Yaitu salinan persis dari sumbernya tanpa perubahan. Kutipan  ini terdiri dari kutipan langsung kurang dari lima baris dan kutipan langsung terdiri atas limabaris ke atas.

  • Kutipan tidak langsung
 Menyadur, mengambil ide dari suatu dan menuliskannya sendiri dengankalimat dan bahasa sendiri. Penulisan diintegrasikan ke dalam teks, tidak diapit tanda petik, spasi sama dengan  teks, dan tidak  mengubah  isi atau  ide penulis aslinya. Penulisan disertai data pustaka  sumber  yang dikutip, dapat berupa catatan kaki atau data pustaka dalam teks.Cara  menyadur  ada  dua  macam, masing-masing berbeda cara, tujuan dan manfaatnya. Cara pertama yaitu meringkas dan yang kedua adalah membuat  ikhtisar
  • Meringkas
Penyajian suatu karangan atau bagian karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Meringkas bertujuan  untuk  mengembangkan ekspresi penulisan, menghemat kata, memudahkan pemahaman naskah asli, dan memperkuat  pembuktian..
Proses meringkas sebagai berikut :
1.Bertolak dari karangan asli
2.Mereproduksi karya asli dalam bentuk ringkasan
3.Menyusun ringkasan dengan mempertahankan keaslian  naskah
  • Membuat ikhtisar
Menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk ringkas, bertolakdari naskah asli, tapi tidak mempertahankan urutan, tidak menyajikankeseluruhan isi, langsung kepada inti bahasan yang terkait denganmasalah yang akan dipecahkan. Ikhtisar memerlukan ilustrasi untukmenjelaskan inti persoalan. Teknik pengetikannya : spasi, huruf danmargin sama dengan teks.

  • Kutipan tanpa catatan kaki
 Artikel dan  makalah pendek (kurang dari sepuluh lembar) yang tidakmenggunakan catatan kaki dapat menggunakan data pustaka dalam teks.
Pemikiran yang mendasari penulisan demikian, antara lain :
1.Artikel lazim dimuat di surat kabar dan majalah popular
2.Ruang untuk menuliskan catatan kaki dan bibliografi terbatas
3.Penulis cenderung  menggunakan ragam  popular, dan lain sebagainya
 Data pustaka dalam teks digunakan dalam menulis karangan pendek,misalnya artikel disurat kabar. Data pustaka dapat  ditempatkan pada awal kutipan (saduran) dan  dapat  pula pada  akhir kutipan (saduran). Datapustaka yang dituliskan : pencipta ide, penulis buku, nama buku, tahundan halaman.








 sumber :

 https://girlycious09.wordpress.com/tag/pengertian-kutipan/

http://vinaafryani.wordpress.com/2012/11/11/pengertian-catatan-kaki/










Senin, 04 November 2013

Kalimat efektif

Kalimat efektif :

Pada paragraf  kedua  Dari sekira 400 juta pengguna internet didunia, 160 juta
akun yang ada di jejaring sosial tersebut diperkirakan dibuat
oleh spammer dan penyebar malware.

Seharusnya :

Dari sekitar 400 juta pengguna internet didunia, 160 juta
akun yang berada di jejaring sosial facebook diperkirakan dibuat
oleh spammer dan penyebar malware .

Cook juga memprediksi, spam melalui SMS menyebar dari China dan negara‐negara Asia lainnya  akhirnya akan merembes ke pasar Inggris.


Seharusnya :

 
Cook juga memprediksi, spam melalui SMS  akan menyebar dari China dan beberapa negara di Asia yang pada  akhirnya akan masuk ke pasar Inggris.







Senin, 21 Oktober 2013

Pilihan kata diksi



Perihal Vicky Prasetyo: Perabaan Awal Atas Bahasa Politik ‘Awur-Awuran’

Anom Astika, kontributor IndoPROGRESS
DI usiaku saat ini… ya TWENTY NINE MY AGE, aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih, kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan. Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT. Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik; aku sangat bangga.’

Kutipan di muka adalah pernyataan seseorang yang mengaku eksekutif sukses, namun sesungguhnya adalah penipu ulung. Sejumlah artis dangdut, termasuk staf anggota DPR Ade Nurul, menjadi sebagian dari korban-korbannya. Korban terakhir, sebelum Vicky Prasetyo dibekuk oleh aparat kepolisian, adalah Zaskia Gotik yang sempat bertunangan dengan pelaku. Saat konferensi pers setelah bertunangan, kata-kata di muka lah yang diucapkan Vicky sebagaimana yang diunggah dalam klip youtube.1
Kegelian sontak tumbuh di kalangan pengguna media sosial, saat saya mengunggah transkrip teks tersebut di akun facebook. Ada yang mengatakan bahwa si Vicky ini kepalanya terbentur aspal sebelum berkata-kata. Ada juga yang menyamakannya dengan pelawak macam Toni Blank yang sempat populer beberapa tahun lalu. Banyak lagi cibiran, ejekan, atau apapun bagi si Vicky. Lebih-lebih diketahui kemudian bahwa si Vicky ini juga penipu ulung, yang pandai memainkan psikologi korban-korban perempuannya dengan berbagai macam identitas. Ia bisa mengaku sebagai dokter ahli bedah plastik, yang mengaku melakukan 30 operasi dalam sehari. Pun sebagai manajer keuangan ia perankan melalui identitas yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Sehingga ia bisa menampilkan diri sebagai dua atau tiga subyek yang berbeda, di hadapan korbannya. Semua modus penipuannya, dilakukan melalui beberapa perangkat ‘telepon pintar’ Blackberry yang dimilikinya, demi ‘memeras’ uang korban-korbannya. Seperti misalnya yang dikemukakan oleh Deasy Kitaro, salah satu korbannya:2
‘Ngakunya anggota DPR, pengusaha dan anak pejabat, itu semua bohong. Aku juga pernah ditelepon yang mengaku seorang dokter bedah bernama dokter Meda. Dokter Meda telepon aku, dia bilang sangat mendukung aku nikah sama Vicky. Tapi ternyata, dokter Meda itu Vicky sendiri.’
Lebih jauh lagi laporan dari sebuah media mengungkap sedikit keterangan dari Lurah Desa Karang Asih, Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat yang merupakan tempat Vicky tinggal saat ini. Dari penuturan Lurah tersebut, diketahui jika nama asli Vicky adalah Hendriyanto bin Hermanto.3 Pun Vicky ternyata sudah menjadi buronan sejak Januari 2013 terkait penipuan surat tanah, dan juga pernah kabur ke Singapura karena kalah dalam pemilihan kepala desa di Bekasi.4
Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia lakukan sampai menjadi buron selama berbulan-bulan, dan dibekuk kemudian oleh pihak Kepolisian dengan tuduhan pemalsuan sertifikat tanah. Tetapi bahasa ‘ngawur’ yang dipergunakan olehnya membuat saya terus bertanya-tanya.
Sekarang mari kita coba interpretasi bebas kalimat-kalimatnya:
  • • aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik = [aku masih ingin dipuja-puja (sebagai artis?) karena pada dasarnya aku suka musik] atau mungkin [aku ingin tampil terbuka] –ini mengingat pernyataan ini dibuat seusai pertunangan yang dilakukan secara tertutup, tidak mengundang awak media.
  • • walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih = [walaupun kegalauan hati ku lebih mengarah pada upaya mencipta kesejahteraan (kebahagiaan?) secara terselubung demi kita berdua]
  • • kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan = [kita belajar mengharmoniskan segala sesuatu, nggak boleh menang sendiri, dan menghilangkan keinginan bersama]
  • • Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT = [ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti atau membuat status kehormatan keluarga dia lebih buruk, tetapi justru untuk membuat lebih percaya diri]
  • • Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik & aku sangat bangga = [Kita harus bisa mengambil peluang dari situasi yang menekan (?) agar kondisi ekonomi kita yang labil menjadi lebih baik dan aku sangat bangga]
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan bahasa Indonesia yang digunakannya. Kalimat-kalimatnya relatif terstruktur dengan baik, dalam makna struktur Subyek, Predikat dan Obyek. Dalam arti, bahasa yang dipergunakannya, tepat menempatkan subyek, tepat menempatkan predikat, tepat menempatkan obyeknya. Sehingga ketika saya mencoba menafsirkannya secara bebas, relatif tidak terlalu sulit kecuali penggunaan istilah-istilahnya yang ‘awur-awuran’ atau ngawur. Sebuah penafsiran lain coba dikemukakan oleh seorang blogger.5
1. Di usiaku saat ini ya twenty nine my age.
seharusnya: Usiaku saat ini 29.
2. Tapi aku tetap masih merindukan apresiasi, karena basicly aku seneng musik. Walaupun kontroversi hati aku lebih ditujukan kepada konspirasi kemakmuran dari yang kita pilih.
Yang ini bener-bener bikin kita garuk-garuk tapak kaki. Apa artinya ya? Apresiasi adalah penghargaan terhadap sesuatu, kontroversi adalah pertentangan, dan konspirasi adalah suatu rencana tersembunyi dibalik sesuatu. (definisi ini nggak lihat KBBI. Jadi mohon maaf kalau saya salah mengartikannya). Tapi, mari kita coba sederhanakan kata-katanya.
Mungkin begini ‘Aku menyukai karyanya (Zaskia) karena pada dasarnya aku senang musik. Tapi aku juga punya prioritas, yaitu karier’
Beugh! Jauh amat! Habis, untuk mengetahui apa arti sebenarnya, sesungguhnya kita harus tahu apa sih yang ditanyakan pada orang ini:
3. Kita belajar .. apa ya? harmonisisasi dari hal yang terkecil sampai terbesar
Mungkin dia ditanyai hal ihwal hubungan mereka. Tapi kesalahan Vicky adalah menyebut harmonisasi menjadi harmonisisasi. Mungkin kalimat lebih sederhana yang bisa ia moncongkan adalah, ‘kita belajar untuk sama-sama mengerti satu sama lain, dari yang terkecil sampai yang terbesar(?)’
4. Kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta dari apa yang kita miliki.
Inilah ‘scene’ paling bikin kita ngakak. Ketika dia menyeret kata ‘kudeta’. Sebagaimana kita tahu, kudeta berarti perebutan kekuasaan secara paksa. Biasanya dipakai dalam ‘bahasa; politik dan ketnegaraan. Jadi apa sih maksudnya Bung Vicky ini? Mungkin akan lebih dimengerti jika dia berkata ‘Kita nggak boleh saling egois dan terlalu mempertahankan apa yang kita miliki (kekayaan) (?)’
5. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut dan mempersuram stasusisasi kemakmuran keluarga dia. Tapi menjadi confident.
Statusisasi? Wah, nggak semua kata bisa direkatkan dengan -isasi, lho. Lalu gimana kata sederhananya? Ah, pikir aja dalam hati:
6. Kita harus menyiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita akan lebih baik dan aku sangat bangga.
Labil ekonomi? Mungkin maksudnya agar kehidupan perekonomian yang bersangkutan bisa seimbang. Di video lain, Vicky bahkan menyebut kata enginering yang disangkutpautkannya dengan hobi mendengarkan musik.
Penafsiran barusan relatif juga tidak punya masalah dengan struktur bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh Vicky, dan—lagi-lagi—hanya soal istilah-istilah yang dipakainya, yang—lagi-lagi—awur-awuran. Lebih-lebih ketika Vicky menggunakan istilah-istilah itu dengan awalan ‘me-’, ‘memper-’ ataupun akhiran ‘-isasi’, hingga menciptakan istilah maupun frasa yang hampir tak pernah ada dalam penggunaan bahasa Indonesia pada umumnya.
Seandainya ada penafsiran lain dengan penggunaan bahasanya pun tak masalah. Kalaupun seorang penulis Kompasiana, menyamakan Vicky dengan Tony Blank—pasien rumah sakit jiwa—yang dianggap filsuf beraliran ‘saparatosan,’6 ya tidak juga mengundang satu gangguan terhadap kehidupan kita.. Sehingga, kalaupun muncul pula anggapan bahwa Vicky adalah salah satu praktisi posmoderen, setelah Tony Blank, saya pun tak menganggapnya sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, adanya tokoh Vicky atau Tony Blank tidak berarti juga ada kenaikan Upah Minimum dan keamanan pekerjaan bagi kaum buruh, ataupun tidak berarti juga satu bentuk perwujudan jiwa-jiwa yang bebas dari cengkeraman roh-roh jahanam, yang menggelantung di leher bak sakit gondok—yang ternyata menurut penelitian kesehatan adalah akibat tubuh manusia kurang mengkonsumsi garam beryodium. Bagi saya, contoh bahasa Vicky adalah contoh penggunaan, dan atau penerjemahan istilah yang ngawur, sesederhana itu saja.
Namun, apabila diperhatikan baik-baik, bahasa yang dipergunakan Vicky sebenarnya seperti campuran antara bahasa gaul—yang kerap disisipi dengan kata-kata ataupun ungkapan bahasa Inggris—dan bahasa jurnalistik intelektual politik masa kini. Terutama pada pilihan-pilihan kata-katanya yang sangat khas bahasa intelektual politik di media massa. Coba perhatikan, ‘Apresiasi,’ ‘Kontroversi,’ ‘Konspirasi,’  ‘Kemakmuran,’  ‘Harmonisasi,’  ‘Ego,’  ‘Kepentingan,’ ‘Mengkudeta,’  ‘Confident,’ ‘Mensiasati,’ ‘Kecerdasan,’ ‘Labil,’ dan ‘Ekonomi.’ Kecuali kata ‘Statutisasi’  yang tidak terlalu jelas dari mana asal usulnya, hampir semuanya adalah kata-kata serapan dari bahasa Inggris yang biasa dipergunakan untuk kepentingan penulisan analisa berita-berita politik. Akan tetapi persoalan kemudian muncul, ketika Vicky menggunakan semua kata milik para ‘analis politik’ itu dalam konteks yang sangat personal, sebagai sebuah pernyataan publik. Lebih-lebih, bahasa tubuhnya saat berucap kalimat-kalimat di muka mengesankan adanya kepercayaan diri yang sungguh besar. Sehingga ketika banyak orang mengetahui bahwa bahasanya adalah selubung dari kegelisahannya sebagai pelaku tindak kriminal berbagai kasus penipuan, runtuhlah semua citra di balik kata-kata tersebut.
Problemnya bukan pada apa makna di balik kata-kata Vicky, melainkan pada bagaimana seorang penipu ulung semacam Vicky bisa berpikir untuk mempergunakan kosa kata ‘politik’ sebagai sarana untuk menyelubungi perilaku menipu pasangannya, keluarga pasangannya, maupun pemirsa televisi? Apakah perbendaharaan kosa kata Vicky begitu banyak mengingat salah satu modus penipuannya adalah menjadi dua atau tiga orang yang berbeda identitas dalam satu waktu untuk merayu korban-korbannya?
Boleh jadi jawaban untuk pertanyaan pertama adalah jawaban berdasar analisis sosio-politik, sementara untuk pertanyaan yang kedua adalah jawaban berdasar analisis psikologi.
Tetapi sebelum analisis ini bergerak menyelidiki, muncul beberapa fenomena baru yang saling berhubungan. Pertama, pemberitaan yang cukup besar mengenai pembelaan Vicky. Mulai dari Vicky sendiri sampai dengan pembelaan terhadap Vicky oleh keluarganya. Kedua, pemberitaan tentang begitu populernya bahasa Vicky itu dipergunakan. Dan ketiga, perihal media dan kaum intelektual yang mencoba mengambil pelajaran dari kasus Vicky.
Tentang Kritik dan Pembelaan
Jarak sehari setelah keramaian di dunia virtual, sebuah blog yang beralamat http://vickyprasetyo.wordpress.com, yang diduga blog milik Vicky Prasetyo mengajukan pembelaan terhadap segala macam kritik yang dialamatkan kepadanya:
This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.
Aku sangat tidak mengharapkan konspirasi berita sehingga nama baik ku disengajakan menjadi buruk citra. Kosakatasime dan bahasaisasi komunikasi jangan dipermasalahkan lah
Kemajemukan masyarakat sepertinya tiada lagi di negeri pancasilais tercinta ini. Sungguh memalukan keintelektualitasan seorang aku menjadi ajang hiburan semata serta pemupusan harapan dan materi of futures. But somehow my precious company was CV Angkasa Mua at Karang Asih was become evidence of my glory.
I am can talking francis, jermany, and other asian things.
Please share this is my good will statement and verification for all them guys to know. Supaya seluruh masyarakat Indonesia tahu lah, pembenaran sikap ku.
Basically disebabkan ucapan dan statement ku dimuat di 9soul.com tanpa izin kontrak tertulis. Afterall, this is my rightous, merupakan hak individualistik untuk berbicara, berbahasa.
Kamis, 12 September 2013, adalah hari pembelaan Vicky oleh anggota keluarganya, melalui suara Dabby Lestari, adik perempuannya. Dabby menyatakan bahwa:7
Malahan Daby menilai kalau tata bahasa eks tunangan Zaskia Gotik tersebut kurang baik karena kuliah di Amerika. ‘Mungkin karena pernah kuliah di Amerika, bahasa Inggrisnya enggak terlalu bagus, enggak kayak di London. Ya mungkin gitu,’ kata Daby.
Daby juga mengaku kalau bahasa yang diungkap Vicky itu berfilosofi tinggi. ‘Tapi itu bahasa filosof sebenarnya. Kalau kita enggak nyampai ilmunya susah, sangkanya itu buat ejek-ejekan saja,’ bela Daby.
Pembelaan yang dikemukakan oleh Vicky, lagi-lagi menuai banyak kritik dan ejekan dari para pembacanya. Lebih-lebih ketika pembaca makin lama makin mengetahui asal-usul Vicky berikut tindakan kriminalnya. Sehingga walaupun pembelaan itu ditulis dengan bahasa yang sedikit lebih mudah dipahami, dan lebih tegas gagasannya, terutama pada kalimat terakhir ‘hak individualistik untuk berbicara, berbahasa’, tetap saja ia semakin diejek oleh khalayak pembaca blognya. Namun semua kritik yang dialamatkan kepadanya, terutama pada blog di muka adalah kritik-kritik tentang penggunaan tatabahasa Inggris dan tatabahasa Indonesia yang ngawur. Tidak ada yang mencoba menelaah apa gagasan yang hendak diajukan ketika ia mengalami ‘bullying’ dari masyarakat dunia virtual.
Sementara pembelaan yang diajukan oleh adik Vicky Prasetyo juga menjadi bahan ejekan yang selanjutnya. Sepertinya apa yang dikemukakan oleh Dabby Lestari adalah sebuah penegasan bahwa Vicky Prasetyo bukan berasal dari keluarga yang berpendidikan. Pastinya, ungkapan-ungkapan Vicky adalah cermin dari pengetahuan yang tidak cukup dari upaya memperbincangkan sesuatu secara serius dan ilmiah.
Mungkin ada benarnya jika pembelaan itu ditempatkan pada kerangka yang lebih luas, pada kerangka pemikiran tentang pembelaan sebagaimana yang diungkapkan oleh Socrates yang dituduh sebagai pemuja setan, di dalam teks Apologia:
‘….Akulah seorang guru yang meminta bayaran; tak ada yang lebih benar dari itu. Walaupun demikian, jika seseorang mampu untuk mengajar, aku menghormatinya karena ia dibayar. Ada Gorgias dari Leontium, dan Prodicus dari Ceos, ataupun Hippias dari Elis. Mereka yang berkeliling dari kota ke kota, dan mampu mempengaruhi orang-orang muda untuk meninggalkan warganya sendiri, demi mereka yang mungkin tidak mengajarkan apa-apa, dan mereka mendatangi orang- orang muda itu, kepada siapa orang-orang muda itu tidak hanya membayar, tetapi sungguh berterima kasih jika diperbolehkan untuk membayar guru-guru itu.’8
Memang, saya yakin baik Vicky Prasetyo, maupun adik Vicky Prasetyo tidak membaca, apalagi berpikir seperti Socrates. Sama halnya dengan banyak intelektual di Indonesia, yang belum tentu membaca dengan teliti, dan kalau pun membaca sebatas setengah membaca, atau setengah mendengar apa yang disampaikan oleh teman dari temannya dosen yang kebetulan nongkrong di kafe, dan tiba-tiba berbicara Socrates setelah gagal menaklukkan hati seseorang, lalu berbicara tentang Socrates sebagai pembelaan atas kegagalannya.
Tapi perhatikan lagi kalimat-kalimat pembelaan Vicky:
This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.
Jika saya tafsirkan secara bebas ungkapan Vicky di muka: ‘Inilah ungkapanku …… meminta dengan hormat pihak manapun yang begitu tega mendiskreditkan …..’ berarti ‘Inilah aku yang bersedia berhadapan dengan kalian yang begitu tega mendiskreditkan reputasi diriku.
Sekarang coba bandingkan dengan kalimat pertama Socrates: ‘Akulah seorang guru yang meminta bayaran, tidak ada yang lebih benar daripada itu’. Ini bisa berarti, ‘aku seorang yang memiliki kemampuan mengajar, dan oleh karena kemampuanku aku meminta dibayar, dan demikianlah adanya diriku.’
Apabila diperhatikan sekilas, baik Socrates maupun Vicky sama-sama berani menyatakan diri berhadapan dengan, katakanlah, ‘musuh-musuhnya’. Tetapi jika diperhatikan lebih cermat, ‘Aku’ menurut Vicky adalah bagian dari ‘keteguhan jiwa’ dan ‘keabsahan kejujuran rasa’ dan ‘reputasi’. Entah apa pun itu pekerjaan Vicky kita tidak menangkapnya. Sementara Socrates, secara langsung menegaskan ‘Akulah seorang guru’. ‘Aku’ adalah ‘apa yang aku kerjakan’. Sama sekali Socrates tidak ada soal dengan keteguhan jiwa dan kejujuran rasa, oleh karena ia berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai seorang guru. Sementara Vicky berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai yang tidak punya pekerjaan tapi punya reputasi baik. Apa sebenarnya gagasan di balik ‘Tidak punya pekerjaan tetapi punya reputasi baik’? Apakah mungkin itu berarti ‘tidak punya pekerjaan tetapi memiliki keteguhan jiwa dan kejujuran rasa?’ Bukankah kalimat pernyataan seperti itu berarti ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya satu (1)?’ Jikalau demikian, bukankah itu berarti juga senada dengan kalimat ‘Muka boleh kaya setan, tetapi hati tetap Rinto (Harahap)?9‘ Atau jika dibawa ke dalam konteks politik, dalam bahasa para aktivis seperti misalnya, ‘Kita sih memang kecil, tetapi besar pengaruhnya?’ Apakah itu sama juga dengan pernyataan seorang pengacara, dan aktivis politik generasi tua, ‘Abang sih ngga ada masalah, tapi yang di belakang abang itu ribut mulu?’ Ataukah itu sejenis dengan pernyataan tokoh kriminal John Kei ketika diinterogasi pihak kepolisian tentang mengapa dirinya membunuh polisi, ‘Saya tidak punya masalah dengan polisi, tetapi saya kebetulan punya teman yang punya masalah dengan polisi’? Apakah itu senada juga dengan ‘penghiburan’ yang diberikan oleh Hariman Siregar kepada aktivis PRD, seperti ‘PRD itu memang kecil tetapi ngasih contohnya itu lho…’ Apa sebenarnya logika dibalik ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya (1)?’ Bukankah teks Proklamasi yang disusun di bawah ancaman militer Jepang, disusun dengan kalimat, ‘Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya’, atau posisi politik di dalam pembukaan UUD 45, ‘Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa’, atau pernyataan Semaun di hadapan pengadilan Hindia Belanda, untuk menjawab pertanyaan tentang identitasnya, ‘Pekerjaan saya merencanakan revolusi?’
Boleh jadi pengamat politik yang harus menyatakan dan atau mendefinisikan siapa Vicky, dan pengamat politik juga yang bisa menilai dengan baik apa gagasan-gagasan politik kita secara obyektif, sementara kita sendiri seperti tak memiliki ruang untuk menyatakan apa pekerjaan kita dan apa gagasan politik kita. Dalam kasus Vicky, adiknyalah yang memberikan pembelaan secara obyektif, lepas dari benar atau salah, lepas dari soal apakah Dabby Lestari itu dungu luar biasa, ataupun kampungan, norak, sehingga pantas masuk neraka jahanam.***